Taruhan Nyawa di Loloda Tengah Malut: Nestapa Malam Natal Akibat Jalan yang Tak Kunjung Dibangun

Tragedi Desa Barataku, Halmahera Barat, Maluku Utara, menyingkap mahalnya ketiadaan jalan darat. Tujuh warga terombang-ambing lima jam di laut antar logistik Natal, harta ratusan juta lenyap, akses rusak disorot.

HALMAHERA BARAT Tragedi memilukan di Desa Barataku pada Rabu (24/12/2025) menjadi bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah infrastruktur bagi warga pedalaman. Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara (Malut).

Gagalnya pembangunan jalan darat memaksa tujuh warga Kecamatan Loloda Tengah harus bertaruh nyawa di tengah ganasnya ombak demi mengantar logistik Natal. Selama lima jam, longboat mereka terombang-ambing dengan mesin mati total, sebelum akhirnya diselamatkan dalam kondisi trauma mendalam.

Bagi masyarakat Barataku, laut bukanlah pilihan utama, melainkan satu-satunya jalan keluar karena akses darat yang rusak parah dan mustahil dilewati. Keterisolasian ini telah merenggut kebahagiaan Natal mereka; harta benda senilai ratusan juta rupiah yang dikumpulkan dari hasil keringat bertani selama berbulan-bulan, lenyap seketika ditelan ombak.

“Ini uang hidup kami. Semua habis di laut karena jalan tidak ada,” ujar seorang warga dengan nada getir.

Ketiadaan akses jalan darat yang layak telah mengisolasi denyut nadi ekonomi dan kesehatan warga. Untuk menjual hasil kebun hingga berobat, warga selalu dihadapkan pada risiko maut di lautan. Peristiwa di malam sakral ini mempertegas bahwa janji-janji pembangunan yang selama ini didengungkan pemerintah daerah hanya menjadi hiasan bibir tanpa realisasi nyata di lapangan.

Merespons hal ini, Ketua Loloda Raya Maju (Lorama), Yosafat Kotalaha, melayangkan protes keras terhadap Pemerintah Kabupaten dan DPRD Halmahera Barat.

Ia menilai pemerintah telah lalai dan membiarkan warganya terus terancam bahaya. Lorama mendesak agar pembangunan jalan darat ke wilayah Loloda Tengah segera direalisasikan sebagai prioritas utama, bukan sekadar komoditas politik tahunan.

“Kami tidak minta bantuan sementara. Kami minta jalan agar kami tidak mati di laut dan tidak kehilangan hidup kami setiap Natal,” tegas Yosafat.

Kini, masyarakat Barataku hanya bisa berharap agar suara mereka menembus dinding kekuasaan, sehingga tak ada lagi warga yang harus merayakan hari raya dengan duka akibat akses jalan yang diabaikan. (*)


Sumber: TIMES INDONESIA